Fenty Rizky Aprilian
5210100027
5210100027
Project Management in Construction
Pada tanggal 23 Februari 2012, mata kuliah Manajemen Proyek TI mengadakan kuliah tamu dengan menghadirkan Bapak Tri Joko Wahyu Adi Ph, D. Tentunya saya mengikuti kuliah tamu ini dengan durasi kurang lebih 2 jam 30 menit. Kuliah tamu ini merupakan kuliah tamu perdana untuk MPTI di semester genap 2011/2012 dengan judul materi kuliah tamu yang dibawakan adalah Project Management in Construction.
Berbicara mengenai Project Management tentunya kita perlu mengetahui terlebih dahulu apakah yang dimaksud dengan Project Management. Definisi dari Project Management adalah suatu kegiatan sementara yang berlangsung dalam jangka waktu terbatas dengan alokasi sumber daya tertentu dan dimaksud untuk melaksanakan tugas yang sasarannya telah ditetapkan dengan jelas (Soeharto .I, 1999)
Sehingga dari definisi yang terpaparkan tersebut, kita mendapatkan point utama dalam topik pembelajaran Project Management yaitu kegiatan sementara, jangka waktu terbatas, bersumberdaya, bertujuan jelas. Dari point utama ini yang merupakan komponen proyek dan dari komponen ini yang akan mengantarkan proyek ke proses manajerial proyek.
Tentunya untuk keberhasilan total sebuah proyek diperlukan adanya manajemen yang maksimal dan efektif. Manajemen tersebut menjadi konstruksi utama dalam pembangunan proyek. Yang pasti adalah misalnya dalam keadaan mendapati sebuah proyek dan tentunya proyek tersebut tidak dapat langsung dijalankan. Namun sebelumnya pihak penerima dan pembangun proyek tersebut seharusnya melakukan manajemen proyek yang dapat berupa penyusunan anggaran, estimasi waktu pembangunan, penentuan Human Resource dan sumber daya apa saja yang akan berkaitan, dan lain-lain. Untuk itu dalam konsep memanage sebuah proyek ini terdapat konsep utama, yaitu Triangle Constraint. Segitiga ini menunjukkan sisi kontribusinya yang berukuran sama besar. kontribusi dari komponen tersebut adalah Cost, Time, Quality. Oleh karena itu setiap sisinya terbentuk menjadi segitiga sama sisi yang pada tengah segitiga mengandung konsep sekaligus tujuan utama dalam membangun proyek, yaitu safety. Sehingga ketika ketiga konsep utama pembangun tersebut dapat dipenuhi dengan baik, maka proyek yang dibangun tersebut akan lebih memiliki daya keamanan (safety) yang lebih baik bagi setiap aktor dan proyek itu dalam pembangunan proyek. Pada setiap komponen dalam konsep ini terdapat perbandingan lurus, seperti ketika mendapatkan order proyek dari stakeholder dengan permintaan proyek yang berkualitas sangat baik, maka waktu yang dibutuhkan untuk membangun proyek dengan kualitas tinggi ini harus lebih banyak. Sebab untuk mendapatkan hasil terbaik, maka diperlukan kedetailan dalam pembanguna proyek yang mengharuskan untuk memakan waktu yang lebih banyak.
Menjadi sebagai project manager, maka mengaruskan sang manager tersebut harus mampu menyeimbangkan kelima faktor komponen yang menjadi pendukung utama dalam kegiatan pembangunan proyek. Kelima faktor tersebut adalah budget, schedule, quality, scope, dan resource yang digambarkan dalam sebuah skema berikut.
Dengan adanya kegiatan dalam memanage sebuah proyek, maka tak sedikit di Indonesia memiliki proyek-proyek besar yang berskala nasional mau pun proyek yang dibangun atas insipirasi dari proyek berskala internasional. Sehingga negara kita pun juga memiliki fasilitas umum yang berdasarkan proyek internasional yang berhasil diterapkan di negara kita. Proyek-proyek besar ini adalah seperti pembangunan flyover (jalan layang), jembatan Suramadu yang sampai menghabiskan dana sebebsar setengah triliun, water bridge, gedung pencakar langit, stadion olahraga, dan pembangkit listrik.
Project Management Body of Knowledge yang biasanya disebut dengan PMBOK membagi sembilan area fungsional yang tergabung dalam 9 knowledge areas functional core. Kesembilan knowledge yang dipaparkan dalam memanage proyek adalah sebagai berikut.
- Scope Management - Human Resource
- Time Management - Communication
- Cost Management - Risk Management
- Quality Management - Procurement
Sebagai seorang manager proyek juga harus menyeimbangkan 9 knowledge tersebut dengan technical aspect dan socio cultural aspect. Kedua aspek ini yang nantinya menjadi bahan banding dalam pembangunan proyek yang akan disesuaikan dengan lingkup proyek tersebut dan segala hal yang berkaitan dengan pembangunan proyek tersebut.
Penentuan scope management juga perlu diperhatikan dalam pembangunan sebuah proyek. Scope management yang dimaksud adalah pembagian tugas yang jelas kepada orang-orang yang jelas keterkaitannya dalam pembangunan proyek. Biasanya dalam pembangunan proyek terdapat adanya tim-tim khusus yang bekerja sesuai divisi dan bidang ahli mereka, untuk itulah diperlukannya manajemen dalam penentuan scope proyek. Langkah utama dalam penentuan scope ini adalah dengan mengidentifikasi scope planning, menganalisis scope definition, create WBS, scope verification, dan yang terakhir adalah proses scope control yang berlangsung ketika dimulainya pembangunan proyek agar masing-masing pembagian tugas dapat terlaksanakan dengan baik dan terkontrol.
Beralih ke knowledge functional area berikutnya, yaitu time management. Dalam konsep utama Triangle Constraints terdapat komponen “Time” pada salah satu sisinya. Maka dapat kita ketahui bahwa betapa pentingnya waktu dalam pembangunan proyek. Waktu sebagai salah satu acuan utama dalam mengukur keberhasilan proyek. Sebab tentunya sebuah proyek memiliki waktu atau deadline yang menjadi batas waktu akhir dalam pembangunan proyek. Oleh karena itu sebuah proyek didefinisikan sebagai kegiatan yang berlangsung sementara (temporari). Dalam memanage waktu untuk alokasi sebuah proyek, diperlukan adanya langkah-langkah yang mendukung dalam time management yang disusun berdasarkan perencanaan dan kesepakatan dengan semua orang yang terkait dalam proyek tersebut. Langkah pertama yaitu pendefinisian aktifitas yang bertujuan untuk pengenalan lebih dalam mengenai proyek yang akan dibangun. Sehingga dari tahap ini didapatkan hasil analisis yang mempengaruhi langkah-langkah berikutnya dalam manajemen waktu. Kemudian berikutnya adalah analisis activity sequence, yaitu analisis mengenai urutan pekerjaan dalam pembangunan proyek tersebut. Seperti menganalisis setiap urutan proses kerja ini memakan waktu berapa lama. Hal ini berkaitan dengan kecapakan dalam mengestimasi. Untuk keperluan berikutnya adalah resource pun juga perlu diestimasikan. Dimana resource ini juga akan mendukung dalam proses proyek yang setiap resource memiliki potensi waktu sesuai dengan pekerjaannya. Sehingga jika semakin banyak resource yang dipekerjakan, maka pekerjaan akan menjadi cepat terselesaikan dan dapat menghemat pengeluaran waktu. Langkah selanjutnya adalah duration estimation. Dengan mengestimasi durasi proyek berdasarkan komponen pendukung dalam pembanguna proyek, maka dengan keahlian dalam mengestimasi ini dapat mengefisiensikan waktu dalam pembangunan proyek. Yang terakhir yaitu scheduled development and control. Schedule development ini adalah untuk progress penyusunan jadwal dalam setiap proses kerja untuk membangun protek dan ketika dijalankan terdapat sistem control untuk mengatur jalannya pekerjaan agar sesuai dengan jadwal yang telah diestimasikan.
Word Breakdown Structure
Estimasi Durasi
Dalam mengestimasi durasi membutuhkan 3 komponen, yaitu :
Dalam mengestimasi durasi membutuhkan 3 komponen, yaitu :
Include dalam input yang terdiri atas : materials, site condition, dan equipments.
Penghitungan untuk menentukan duration :
Proses Estimasi
Dengan adanya estimasi durasi ini adalah harapannya dapat mendukung proses dalam pengerjaan dengan pemanfaatan dan penggunaan waktu semaksimal mungkin. Namun untuk menghemant pengeluaran waktu dapat melakukan hal-hal yang berkaitan dengan faktor dibawah ini. Faktor-faktor yang dapat mempercepat proyek :
• Penambahan alat
• Penambahan tenaga kerja
• Penambahan metode
Sumber Pendanaan Proyek
Setiap dana yang dianggarkan untuk membangun proyek tidak dapat berkisar dalam jumlah uang sedikit. Dana untuk setiap proyek juga berbeda-beda bergantung dengan jenis proyek apa yang akan dibangun. Oleh karena itu dapat diklasifikan pihak-pihak sumber dana pada setiap proyek, pihak-pihak tersebut adalah dana pemerintah (APBN), dana swasta (private), dan kerjasama pemerintah dengan swasta (Public Private Partnership - PPP).
Pada knowledge area functional quality management, dalam pembangunan proyek ini diperlukan kesiapan dalam pengukuran tingkat kualitas seberapa yang akan dicapai oleh proyek ini. Tentunya kualitas proyek inilah yang akan menjadi citra pengelolaan proyek. Oleh karena itu diperlukan adanya tahapan untuk menyiapkan hasil proyek berkualitas. Langkah-langkah yang diperlukan adalah :
• Quality Planning, perencanaan kualitas yang dianalisis dan menjadi cota-cita bersama dalam pembangunan proyek untuk keberhasilannya.
• Quality assurance, jaminan kualitas proyek yang ditekankan.
• Quality control, sebagai pengontrol proses pengerjaan proyek agar dapat menghasilkan proyek yang berkualitas sangat baik.
Dalam setiap proses apa pun termasuk proses pembangunan proyek, akan selalu ada resiko. Resiko adalah yang kemudian masuk ke dalam salah satu knowledge functional area. Seperti yang kita ketahui probabilities dalam terjadinya resiko sangatlah berpotensi dalam setiap pembangunan proyek. Untuk itu diperlukan adanya kegiatan untuk memanajemeni resiko atau yang disebut dengan risk management. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut :
• Risk identification, yaitu mengidentifikasi setiap resiko yang dapat terjadi dari setiap aktifitas yang akan dilakukan pada pembangunan proyek.
• Risk analysis, menganalisa hasil dari identifikasi resiko yang kemudian dipikirkan solusi atau pengendalian resiko tersebut.
• Risk respond, menanggapi resiko.
• Risk monitoring and control, ketika proses kerja telah dimulai maka akan dijalankan monitoring resiko untuk pengontrolan dan pengendalian resiko tersebut.
• Risk identification, yaitu mengidentifikasi setiap resiko yang dapat terjadi dari setiap aktifitas yang akan dilakukan pada pembangunan proyek.
• Risk analysis, menganalisa hasil dari identifikasi resiko yang kemudian dipikirkan solusi atau pengendalian resiko tersebut.
• Risk respond, menanggapi resiko.
• Risk monitoring and control, ketika proses kerja telah dimulai maka akan dijalankan monitoring resiko untuk pengontrolan dan pengendalian resiko tersebut.
Jenis-jenis respond terhadap resiko (risk style) :
• Risk lover
• Risk neutral
• Risk avers







